A Brief History of Time Chapter 1 Part 3

Masih di Chapter “Gambaran Kita Terhadap Semesta”, yang mau refresh part 2 bisa klik di A Brief History Of Time Chapter 1 Part 2. Tak bosan untuk menyampaikan pada teman-teman, jika memiliki kritik dan saran terhadap terjemahan ini, bisa dituliskan pada kolom komentar ya. Mari kita simak lanjutannya.

Menurut pengamatan Kepler, orbit elips hanyalah hipotesis sementara, dan yang berlawanan pada saat itu, karena elips bentuknya kurang sempurna dibandingkan lingkaran. Setelah pengamatan yang tak disengaja, orbit elips ternyata sesuai dengan pengamatan, Keppler tidak bisa menjelaskan tentang idenya bahwa planet mengorbit matahari dengan gaya magnet. Penjelasan tersebut datang di kemudian hari, pada tahun 1687, ketika Sir Isaac Newton menerbitkan Philosophiae Naturalis Principia Mathematica, kemungkinan karya tunggal paling penting yang pernah diterbitkan dalam ilmu fisika. Di dalamnya Newton tidak hanya mengemukakan teori tentang bagaimana benda bergerak dalam ruang dan waktu, tetapi ia juga mengembangkan matematika rumit yang diperlukan untuk menganalisis gerakan-gerakan itu. Sebagai tambahan, Newton mendalilkan hukum gravitasi universal yang dengannya setiap tubuh di alam semesta tertarik menuju tubuh lainnya dengan kekuatan yang lebih kuat  dan semakin besar jika berdekatan satu sama lain. Kekuatan inilah yang menyebabkan benda jatuh ke tanah. (Kisah Newton yang terinspirasi dari apel jatuh, dipastikan sebuah apokrif. Newton pernah mengaatakan bahwa gagasan tentang Gravitasi datang kepadanya ketika dia duduk “dalam suasana kontemplatif” dan “disebabkan oleh jatuhnya apel.”) Newton melanjutkan, menurut hukumnya, gravitasi menyebabkan bulan bergerak dalam orbit elips di sekitar bumi dan menyebabkan bumi dan planet-planet mengikuti orbit elips mengelilingi matahari.

Model Copernicus menggantikan model Ptolemeus, dan bersama mereka, gagasan bahwa alam semesta memiliki batas alami. Karena “bintang tetap” tidak berubah posisinya di langit meskipun bumi berputar pada porosnya, itu terlihat alami sehingga bintang tetap dianggap sebagai objek seperti matahari tetapi dengan jarak sangat jauh.

Newton menyadari bahwa, menurut teorinya tentang gravitasi, bintang-bintang seharusnya saling menarik, jadi pada dasarnya mereka tidak bergerak. Tidakkah mereka semua akan jatuh bersama pada suatu saat? Dalam surat tahun 1691 untuk Richard Bentley, pemikir terkemuka lain pada zamannya, Newton berpendapat bahwa ini mungkin terjadi jika memang ada sejumlah bintang yang tersebar di wilayah terbatas. Tetapi dia beralasan bahwa jika, di sisi lain, ada jumlah bintang yang tak terbatas, didistribusikan kurang lebih secara seragam di ruang yang tak terbatas, ini tidak akan terjadi, karena tidak akan ada titik pusat bagi mereka untuk jatuh.

Argumen ini adalah contoh dari jebakan yang dapat Anda temui jika berbicara tentang ketidakterbatasan. Dalam semesta yang tak terbatas, setiap titik dapat dianggap sebagai pusat, karena setiap titik memiliki jumlah bintang yang tak terbatas pada tiap sisinya. Pendekatan yang benar, baru direalisasikan beberapa saat kemudian, adalah dengan mempertimbangkan situasi yang terbatas, di mana semua bintang berjatuhan, dan kemudian bertanya bagaimana keadaan berubah jika seseorang menambahkan lebih banyak bintang secara seragam didistribusikan di luar wilayah ini. Menurut hukum Newton, penambahan bintang tidak akan membuat perbedaan sama sekali bagi bintang yang sudah ada sebelumnya, sehingga bintang-bintang akan jatuh sama cepatnya. Kita bisa menambahkan bintang sebanyak yang kita mau, tetapi mereka masih akan selalu jatuh dengan sendirinya. Kita sekarang tahu, tidak mungkin memiliki semesta dengan model statis tak terbatas yang gravitasinya selalu tarik-menarik.

Ini adalah refleksi yang menarik tentang pemikiran sebelum abad kedua puluh, dimana tak satupun mengatakan bahwa alam semesta mengembang atau berkontraksi. Secara umum diketahui bahwa alam semesta telah ada dan keadaannya tidak berubah, atau bahwa ia telah diciptakan pada waktu yang terbatas di masa lalu kurang lebih seperti yang kita amati hari ini. Hal ini mungkin disebabkan oleh kecenderungan orang untuk percaya pada kebenaran abadi, juga sebagai penghiburan yang mereka temukan dalam pemikiran bahwa meskipun mereka tua dan mati, alam semesta adalah kekal dan tidak berubah.

Bahkan mereka yang menyadari bahwa teori gravitasi Newton menunjukkan bahwa alam semesta tidak mungkin statis tidak berpikir untuk menyatakan bahwa semesta mungkin saja berkembang. Sebagai gantinya, mereka berusaha untuk memodifikasi teori dengan membuat gaya gravitasi yang repulsif pada jarak yang sangat besar. Secara signifikan ini tidak mempengaruhi prediksi mereka terhadap gerakan planet-planet, tetapi memungkinkan distribusi bintang yang tak terbatas untuk tetap dalam keseimbangan – dengan yang menarik energi di antara bintang-bintang terdekat diimbangi oleh energi dari bintang yang lebih jauh. Namun, kita sekarang percaya keseimbangan semacam itu tidak stabil: jika bintang-bintang di suatu daerah hanya sedikit lebih dekat dengan bintang lainnya, daya tarik yang terjadi di antara mereka akan menjadi lebih kuat dan mendominasi, jika terus terjadi bintang-bintang akan jatuh ke arah satu sama lain. Di sisi lain, jika bintang-bintang sedikit lebih jauh dari satu sama lain, kekuatan itu akan mendominasi dan mengusir mereka lebih jauh.

Terjemahan lanjutannya bisa teman-teman klik disini berikut ya

Artikel ini sebelumnya tayang di wattanabe.wordpress.com dengan judul ‘’A Brief History Of Time Chapter 1 Part 3” 06.02.19

Related Post

1 Trackback / Pingback

  1. A Brief History of Time Chapter 1 Part 4 - Wattanabe

Leave a Reply

Your email address will not be published.


*


Copy Protected by Chetan's WP-Copyprotect.