A Brief History of Time Chapter 1 Part 4

Masih di Chapter “Gambaran Kita Terhadap Semesta”, yang mau refresh part 3 bisa klik di A Brief History Of Time Chapter 1 Part 3. Tak bosan untuk menyampaikan pada teman-teman, jika memiliki kritik dan saran terhadap terjemahan ini, bisa dituliskan pada kolom komentar ya. Mari kita simak lanjutannya.

Heinrich Olbers seorang filsuf Jerman tidak sepakat mengenai alam semesta statis tak terbatas, teori tersebut ia tulis pada tahun 1823. Sebenarnya banyak yang sepaham dengan Olbers, dan ia bukan orang pertama yang memiliki argument masuk akal. Tetapi memang artikel Olbers lah yang paling banyak dicatat. Hal yang sulit dipahami dari alam semesta statis tak terbatas adalah hampir setiap garis pandang akan berakhir pada permukaan bintang. Dengan demikian orang akan beranggapan bahwa seluruh langit akan seterang matahari bahkan saat malam sekalipun. Olbers berargumen bahwa cahaya yang berasal dari bintang yang jauh akan diredupkan oleh absorpsi, oleh sesuatu yang menghalangi. Namun, jika itu terjadi, sesuatu yang menghalangi ini akhirnya memanas dan  bersinar seterang bintang-bintang. Satu-satunya cara menghindari kesimpulan bahwa langit malam akan seterang siang hari, adalah dengan berasumsi bahwa bintang tidaklah bersinar terus-menerus, tetapi bersinar beberapa saat di masa lalu. Dalam hal ini, sesuatu yang menyerap mungkin belum memanas atau cahaya dari bintang-bintang jauh mungkin belum mencapai kita. Hal ini menimbulkan pertanyaan tentang apa yang menyebabkan bintang bersinar pada saat itu.

Permulaan alam semesta, telah dibahas jauh sebelum ini. Menurut sejumlah kosmologi terdahulu dan tradisi Yahudi / Kristen / Muslim, alam semesta pada awalnya terbatas di masa lalu. Salah satu argument pada saat itu adanya perasaan mengetahui “Penyebab Pertama” untuk menjelaskan keberadaan alam semesta. (Di dalam alam semesta, Anda selalu menjelaskan satu peristiwa disebabkan oleh beberapa peristiwa sebelumnya, tetapi keberadaan alam semesta itu sendiri dapat dijelaskan dengan cara ini hanya jika semesta memiliki permulaan.) Argumen lain dikemukakan oleh St Augustine dalam bukunya The City of God. Dia menunjuk bahwa peradaban mengalami perubahan dan kita ingat siapa yang melakukannya. Demikian juga manusia, dan mungkin juga alam semesta, tidak mungkin ada selama itu. St. Agustinus menerima Penciptaan alam semesta menurut kitab Kejadian sekitar tahun 5000 SM. (Sangat menarik ini tidak jauh dari akhir Zaman Es terakhir, sekitar 10.000 SM, ketika para arkeolog memberi tahu kita tentang peradaban yang baru dimulai.)

Sementara itu, Aristoteles, dan sebagian besar filsuf Yunani lainnya, tidak menyukai gagasan penciptaan karena terlalu banyak campur tangan Tuhan. Oleh karena itu, mereka percaya bahwa umat manusia dan dunia beserta isinya telah ada, dan akan ada, selamanya. Orang dahulu sudah mempertimbangkan tentang kemajuan peradaban yang dijelaskan di atas, dan menjawabnya dengan mengatakan bahwa telah terjadi banjir berkala atau bencana lain yang berulang kali sehingga membawa umat manusia kembali ke awal peradaban.

Pertanyaan-pertanyaan apakah alam semesta memiliki permulaan dan apakah semesta terbatas dalam ruang, diperiksa secara luas oleh filsuf Immanuel Kant dalam karyanya yang monumental (dan sangat tidak jelas) Critique of Pure Reason, diterbitkan pada 1781. Dia menyebut pertanyaan-pertanyaan ini antinomi (yaitu, kontradiksi) dengan alasan murni karena dia merasa bahwa ada argumen yang sama kuatnya untuk mempercayai tesis, bahwa alam semesta memiliki permulaan, dan antitesis, bahwa semesta akan ada selamanya. Argumennya untuk tesis adalah bahwa jika alam semesta tidak memiliki permulaan, akan ada periode waktu yang tak terbatas sebelum peristiwa apa pun, yang ia anggap tidak masuk akal. Argumen untuk antitesis adalah bahwa jika alam semesta memiliki permulaan, akan ada periode tak terbatas sebelumnya, jadi mengapa alam semesta harus dimulai pada satu waktu tertentu? Bahkan, untuk kedua tesis dan antitesisnya benar-benar argumen yang sama. Keduanya didasarkan pada asumsi yang diulang-ulang terus, apakah alam semesta akan kekal selamanya. Seperti yang akan kita lihat, konsep waktu tidak memiliki arti sebelum awal alam semesta. Ini pertama kali ditunjukkan oleh St Agustinus. Ketika ditanya: “Apa yang Tuhan lakukan sebelum dia menciptakan alam semesta?” Agustinus tidak menjawab: “Dia sedang mempersiapkan Neraka bagi manusia yang mengajukan pertanyaan semacam itu. ”Sebaliknya, ia mengatakan bahwa waktu adalah milik alam semesta yang diciptakan oleh Allah, dan waktu itu tidak ada sebelum permulaan alam semesta.

Ketika kebanyakan orang percaya pada alam semesta yang statis dan tidak berubah, pertanyaan apakah memiliki atau tidak memiliki awal sebenarnya adalah salah satu metafisika atau teologi. Seseorang dapat menjelaskan apa yang diamati secara setara baik pada teori bahwa alam semesta kekal selamanya atau pada teori bahwa ia digerakkan pada batas tertentu, waktu sedemikian rupa sehingga seolah-olah itu ada selamanya. Tetapi pada tahun 1929, Edwin Hubble membuat landmark yang membuat siapapun yang melihat, galaksi bergerak cepat menjauhi kita. Dengan kata lain, alam semesta berkembang. Ini berarti bahwa pada waktu-waktu sebelumnya objek lebih dekat satu sama lain. Sebenarnya, terlihat seperti ada suatu masa, sekitar sepuluh atau dua puluh ribu juta tahun yang lalu, ketika mereka semua berada di tempat yang sama dan ketika, karenanya, kepadatan alam semesta tidak terbatas. Penemuan ini akhirnya membawa pertanyaan tentang awal jagat raya ke ranah sains.

Pengamatan Hubble menunjukkan bahwa ada satu waktu, yang disebut big bang, ketika alam semesta ada Sangat kecil dan padat tak terhingga. Dalam kondisi seperti itu semua hukum sains, dan semua kemampuan memprediksi masa depan, akan dipatahkan. Jika ada peristiwa lebih awal dari saat ini, maka mereka tidak dapat memengaruhi apa yang terjadi pada saat ini. Keberadaan mereka dapat diabaikan karena tidak memiliki konsekuensi pengamatan. Orang mungkin mengatakan bahwa waktu memiliki permulaan pada big bang, dalam arti simpel bahwa waktu sebelumnya tidak ditentukan. Harus ditekankan bahwa permulaan waktu ini sangat berbeda dari yang sudah dipertimbangkan sebelumnya. Di alam semesta yang tidak berubah, permulaan waktu adalah sesuatu yang harus dipaksakan oleh sesuatu dari luar alam semesta; tidak ada kebutuhan fisik untuk permulaan. Orang bisa membayangkan bahwa Tuhan menciptakan alam semesta secara harfiah kapan saja di masa lalu. Di sisi lain, jika alam semesta berkembang, mungkin ada alasan fisik mengapa harus ada permulaan. Orang masih bisa membayangkan bahwa Tuhan menciptakan semesta pada saat big bang, atau bahkan sesudahnya sedemikian rupa agar terlihat seolah-olah ada setelah big bang, tetapi tidak ada artinya untuk menganggap bahwa itu dibuat sebelum big bang. Berkembangnya alam semesta tidak menghalangi seorang pencipta, tetapi ia menempatkan batasan pada saat melakukannya!

Terjemahan lanjutannya bisa teman-teman klik link berikut ya A Brief History Of Time Chapter 1 Part 5

Artikel ini sebelumnya tayang di wattanabe.wordpress.com dengan judul ‘’A Brief History Of Time Chapter 1 Part 4” 19.07.19

Related Post

Be the first to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.


*


Copy Protected by Chetan's WP-Copyprotect.