A Brief History Of Time Chapter 1 Part 1

Saat ini saya sedang membaca sebuah buku yang keren berjudul A Brief History of Time karya Stephen Hawking, dan sedang berusaha menerjemahkannya (di sela pekerjaan sehari-hari). Tentunya kritik dan asupan yang membangun, sangat saya harapkan dari teman-teman sekalian. Meskipun bidang saya bukanlah di fisika, tetapi tidak dilarang bukan, mempelajari buku tersebut ;).

Sejarah Singkat Tentang Waktu (Stephen Hawking) Chapter 1 : Gambaran Kita Terhadap Semesta

Seorang ilmuwan terkenal (beberapa orang mengatakan itu adalah Bertrand Russell) pernah memberikan kuliah umum tentang astronomi. Dia menggambarkan bagaimana bumi mengelilingi matahari dan bagaimana matahari, mengorbit pada pusat bintang-gemintang yang kita sebut galaksi. Di akhir kuliah, seorang wanita tua kecil di bagian belakang ruangan bangkit dan mengatakan: “Apa yang Kau sampaikan adalah omong kosong. Dunia berbentuk pelat datar seperti tempurung kura-kura raksasa.” Ilmuwan itu tersenyum simpul sebelum menjawab,”Kura-kura itu berpijak pada apa.” “Kau sangat pintar, anak muda, sangat pintar, ”kata wanita tua itu. “Kura-kura itu jatuh!”

Kebanyakan orang beranggapan bahwa alam semesta tak terbatas bagai tempurung kura-kura yang aneh, tetapi mengapa kita merasa lebih tahu? Apa yang kita ketahui tentang alam semesta, dan bagaimana kita mengetahuinya? Bagaimana semesta berasal, dan bagaimana akhirnya? Apakah semesta memiliki permulaan, dan jika demikian, apa yang terjadi sebelumnya? Apa sifat waktu? Apakah waktu akan berakhir? Bisakah kita kembali ke masa lalu? Terobosan terbaru dalam bidang fisika, memungkinkan menjawab beberapa pertanyaan tersebut. Suatu hari nanti, jawaban tersebut mungkin tampak jelas bagi kita, seperti bumi yang mengorbit matahari – atau mungkin sama konyolnya dengan tempurung kura-kura. Hanya waktu yang bisa menjawab.

Pada zaman dulu, sekitar 340 SM filsuf Yunani Aristoteles, dalam bukunya On the Heavens, mengajukan dua argumen yang meyakini bahwa bumi berbentuk bulat dan bukan pelat seperti topi. Argumen pertama, dia menyadari bahwa gerhana bulan disebabkan oleh kedudukan bumi yang berada di antara matahari dan bulan. Bayangan Bumi yang tampak di bulan selalu bulat, hal ini terjadi jika bumi benar berbentuk bulat. Jika bumi berbentuk cakram datar (seperti compact disk), bayangannya akan memanjang dan elips, kecuali kalau gerhana selalu terjadi saat matahari di bawah pusat cakram. Kedua, orang Yunani tahu berdasarkan pengamatan mereka bahwa bintang utara terlihat lebih rendah di langit bila dilihat dari selatan, daripada di daerah yang lebih utara. Karena bintang utara terletak di Kutub Utara, sehingga terlihat oleh pengamat tepat di atas Kutub Utara, tetapi untuk seseorang yang melihat dari garis khatulistiwa, tampaknya terletak tepat di cakrawala. Dari perbedaan posisi Bintang Utara di Mesir dan Yunani, Aristoteles bahkan memperkiraan bahwa jarak dari bumi adalah 400.000 stadia. Tidak diketahui persis berapa panjang jarak itu, mungkin sekitar 200 yard, yang membuat estimasi Aristoteles sekitar dua kali jarak yang berlaku saat ini. Orang Yunani bahkan punya Argumen ketiga bahwa bumi harus bundar, yaitu mengapa yang terlihat pertama saat kapal datang adalah layarnya baru kemudian badannya?

Terjemahan lanjutannya bisa teman-teman klik disini berikut ya

Artikel ini sebelumnya tayang di wattanabe.wordpress.com dengan judul ‘’A Brief History Of Time Chapter 1 Part 1” 24.01.19

Related Post

1 Trackback / Pingback

  1. A Brief History Of Time Chapter 1 Part 2 - Selaksa Kata

Leave a Reply

Your email address will not be published.


*


Copy Protected by Chetan's WP-Copyprotect.