Asap yang Mengetuk Pintu

white smoke

Selarik narasi tentang kegelisahan karena terganggu asap rokok yang sumbernya dari rumah orang lain.

Assalamualaikum, selamat malam. Seharusnya saat ini aku mengerjakan tugas presentasi Sistem Manajemen dan Audit Lingkungan, yang akan ditampilkan esok hari. Namun rasanya ‘gatal’ sekali ingin menulis mengenai sikap yang tidak baik orang-orang di lingkungan rumahku.

Sudah menjadi kegiatan rutin bahwa minggu malam adalah acara arisan (arisan selalu didahului dengan pengajian) bapak-bapak di lingkungan ini. Kebetulan malam ini acaranya tepat disebelah rumahku. Bukan lagu marawis yang mengganggu konsentrasiku, bukan obrolan mereka yang mengusik ketenanganku, melainkan asap rokok yang datang menyambangi rumahku. Aku heran, tidak hanya acara seperti ini, tetapi bahkan acara pengajian pun tak sedikit mereka yang merokok. Memang sih, merokoknya bukan saat membaca do’a tapi dimataku, kemuliaan kegiatan itu (pengajian) menjadi ternoda oleh sikap para perokok yang seenaknya menyebarkan racun lewat udara itu.

Buah jatuh tak jauh dari pohonnya, begitulah yang terjadi. Anak muda (anak dari bapak-bapak diatas) jika sudah berkumpul/ istilahnya kongkow ya tidak jauh dari kegiatan merokok. Toh orang tua mereka juga seperti itu. Yang lebih ‘ya ampun’ lagi, apabila akan mengupah orang, warga disini sudah menjadi budaya untuk memberi ‘uang rokok’.

Bukan, aku bukan ingin membicarakan SARA. Aku hanya ingin mengatakan, kepada mereka khususnya yang ikut mengaji, bukankah menzhalimi diri sendiri dan orang lain dilarang? Lalu mengapa masih dilakukan? Menzalimi diri sendiri dengan mengisap berbagai macam racun dalam sebatang rokok, dan menzalimi orang lain dengan menebar racun di udara tempat kita menghirup udara bersama.

Mengapa aku memasukkan tulisan ini ke dalam kategori environmental health? Karena hei, ini jelas, sikap buruk diatas adalah wujud tak acuh dalam menciptakan lingkungan sehat. Bila ingin egois, ‘bagaimana aku bisa hidup sehat jika lingkungan sekitarku selalu mengepulkan asap setiap pertemuannya?’. Bagaimana keluarganya bisa hidup sehat dan bahagia, jika ketika menggendong anaknya ia suapkan juga asap penuh bala itu? dan satu lagi, aku amat sangat menyayangkan mereka yang belajar dan paham ilmu agama namun belum mau meninggalkan kebiasaan merokok.

Artikel ini sebelumnya tayang di wattanabe.wordpress.com dengan judul ‘’Kepulan Asap itu Mengetuk Pintu” 03.11.13

Related Post

Be the first to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.


*


Copy Protected by Chetan's WP-Copyprotect.