Aspartam: Si Manis Yang Tidak Nice

white sugar cube forming lines

Halo teman-teman, minggu lalu saya absen dalam meresume jurnal, jadi kali ini saya akan meresume beberapa jurnal tentang aspartam. Memang apa sih aspartam? Jadi aspartam ini merupakan bahan tambahan pangan yang diperbolehkan penggunaannya (tertuang pada Permenkes nomor 208/menkes/per/iv/1985), bisa kita temukan dalam produk minuman dan makanan. Jumlah yang dibolehkan dalam peraturan tersebut (Acceptable Daily Intake/ADI) yaitu maksimal 40 mg/KgBB/hari. Jadi misalnya BB kita 50kg, maka maksimal konsumsinya dalam sehari adalah 2000 mg.1 Bahkan di Amerika, ADI nya adalah 50 mg/KgBB, lebih besar daripada di Indonesia.2

Menurut Maher dan Wurtman (1987), batas antara bahan tambahan pangan (BTP) dengan obat adalah efek fisiologis. BTP diharapkan dapat memberikan manfaat berupa meningkatkan rasa, memperlambat pembusukan, atau meningkatkan kualitas nutrisi, dan manfaat tersebut harus diberikan tanpa adanya risiko. Karena bila ditemukan bahwa aspartame/btp lainnya berisiko mempengaruhi fungsi fisiologis, maka senyawa tersebut akan digolongkan sebagai obat oleh FDA. Bila digolongkan sebagai obat, tentu perusahaan akan dituntut untuk membuat prosedur penggunaan btp tersebut.2

Dilaporkan bahwa aspartame yang dikonsumsi orang-orang dalam dosis yang dibolehkan, dapat mempengaruhi komposisi kimia otak yang berkontribusi menimbulkan efek samping berupa sakit kepala, respon perilaku yang tidak sesuai dan kejang. Dalam molekul aspartame, terkandung 3 senyawa alami yaitu asam amino fenilalanin, asam aspartate dan alcohol methanol. Aspartame akan meningkatkan plasma fenilalanin pada otak, sehingga dapat meningkatkan potensi kejang pada manusia yang rentan (missal pada orang heterozigot fenilketonuria). Tetapi konsumsi aspartame saja, tidak bisa menjadi penyebab utama kejang, ada peran lain yaitu jika aspartame (pada produk makanan/minuman) dikonsumsi bersamaan dengan contohnya makanan yang tinggi karbohidrat, makanan penutup yang rendah kandungan proteinnya, sehingga menyebabkan kenaikan plasma fenilalanin menjadi lebih banyak. Hal ini karena sekresi insulin yang ditimbulkan oleh karbohidrat secara selektif menurunkan kadar plasma rantai cabang asam amino (dengan menyerap mereka ke dalam otot rangka) tanpa memiliki banyak efek pada fenilalanin plasma, sehingga meningkatkan rasio fenilalanin plasma.2

Struktur Aspartam
Gambar: Wikipedia

Menurut Soffritti dkk (2007), saat dikonsumsi, asam aspartate diubah menjadi alanin plus oksaloasetat, fenilalanin ditransformasikan menjadi tirosin dan feniletilamin dan fenilpiuvat (dlm tingkat rendah), dan methanol diubah menjadi formaldehida kemudian menjadi asam format. Pada tes in vitro dan in vivo, aspartame tidak bersifat genotoksik (agen/bahan yang dapat merubah gen/DNA). Demikian juga studi karsinogenisitas jangka Panjang yang dilakukan produsen aspartame menggunakan tikus pada tahun 1970-an dan 1980-an tidak menunjukkan efek karsinogenik (tidak mengakibatkan kanker). Namun penelitian yang dilakukan oleh Soffritti dkk, ternyata menunjukkan hasil yang berbeda. Pada tahun 2005-2006, Eksperimen mereka menunjukkan, bahwa aspartame merupakan agen/bahan yang bersifat multipotensial karsinogenik. Beberapa hasil eksperimen mereka yaitu :

Aspartame mampu memicu peningkatan insiden tumor malignan/tumor ganas (pada tikus jantan dan khususnya tikus betina yang diberikan dosis 50.000ppm)
Aspartame dapat meningkatkan insiden limfoma/leukimia (pada jantan maupun betina, khususnya pada betina, yang mendapatkan asupan dosis 100.000ppm, 50.000ppm, 10.000ppm, 2.000ppm atau 400ppm)
Aspartame dapat meningkatkan insiden kanker pada sel transisi (pelvis dan ureter) dan precursor mereka (dysplasia) pada betina yang diberi dosis 100.000ppm, 50.000ppm, 10.000ppm, 2.000ppm atau 400ppm
Aspartame dapat meningkatkan insiden schwannoma malignan saraf tepi pada tikus jantan.
Untuk membbuktikan efek karsinogenik aspartame, Soffritti dkk melakukan penelitian kedua yang menghasilkan :

Meningkatkan insiden limfoma/leukimia pada tikus betina. Jika dibandingkan dengan kelompok control, peningkatan insiden limfoma juga terjadi pada jantan dengan dosis 2.000 ppm. Pada jantan, histotipe yang paling sering adalah limfoma limfoimunoblastik yang melibatkan paru-paru dan nodus mediastinum. Sedangkan pada betina, limfoma limfositik dan limfoma limfoimunoblastik yang melibatkan kelenjar timus, paru, limpa, dan perifer.
Meningkatnya insiden kanker payudara pada tikus betina yang terpajan dosis 2.000 ppm
Dari keseluruhan eksperimen kedua, ditemukan bahwa kejadian limfoma lebih banyak pada tikus jantan (20,6%) dibandingkan pada betina (13,3%).
Soffritti dkk, juga menegaskan bahwa penelitian keduanya bukan hanya mengkonfirmasi, tetapi juga memperkuat penelitian pertama mereka, dari pajanan aspartame pada dosis yang hampir sama dengan ADI untuk manusia. Penelitian juga menunjukkan bahwa konsumsi aspartame sejak janin (ibu hamil makan dan minum produk ber-aspartam), dapat meningkatkan risiko karsinogenik.

Sebagai orang yang pernah mencicipi pendidikan kesehatan lingkungan, saya selalu mengingat bahwa tidak bisa meremehkan batas aman konsumsi, selama konsumsi itu rutin dan terus-menerus. Bahkan untuk aspartame sendiri, banyak saya temukan tulisan yang mengatakan bahwa terlalu berlebihan kekhawatiran tentang konsumsi aspartame. Yang lebih miris, saya sering temukan aspartame pada makanan ringan/minuman ringan anak-anak. Tidak percaya? Silahkan saja teman-teman cek komposisi produk yang dibeli. Pernah menjumpai tulisan “mengandung pemanis buatan/fenilalanin, tidak cocok bagi penderita fenilketonuria”? saya ingat sekali saat hamil, harus menghindari produk salah satunya aspartame, bahkan makanan kesukaan saya yaitu kacang atom/pilus ada tulisan ini “mengandung pemanis buatan/fenilalanin, tidak cocok bagi penderita fenilketonuria”. Apalagi jika anak-anak kita rutin/rajin mengkonsumsinya, hmm memang tidak langsung kelihatan dampaknya. Yuk mulai dari sekarang cermati dan batasi asupan untuk produk yang kurang berfaedah.

Salam sehat

Referensi :

Permenkes RI No.208/Menkes/Per/IV/1985.
http://jdih.pom.go.id/produk/PERATURAN%20MENTERI/PERMENKES_NO.208_Menkes_Per_IV_1985_Tentang%20PEMANIS%20BUATAN_1985.pdf

Maher, Timothy J. Wurtman, Richard J. 1987. Possible Neurologic Effects of Aspartame, a Widely Used, Food Additive. Environmental Health Perspective. Vol 75. P53-57.
Soffritti, Morando., Belpoggi, Fiorella., Tibaldi, Eva., Esposti, Davide D., Lauriola, Michelina. 2007. Life-Span Exposure to Low Doses of Aspartam Beginning During Prenatal Life Increases Cancer Effects in Rats. Environmental Health Perspectives. Vol 115. No 9. P1293-7
https://ehp.niehs.nih.gov/doi/pdf/10.1289/ehp.10271

Artikel ini sebelumnya tayang di wattanabe.wordpress.com, dengan judul ” Si Manis Aspartam, Yang Tidak Nice” 05.03.19

Related Post

Be the first to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.


*