Bagaimana jika bukan?

person holding bouquet of flower

Bagaimana jika bukan? Terkadang, asumsi membuat kita menjadi orang yang tidak tergesa-gesa dalam memutuskan. Tetapi lebih sering tidak jadi melakukan suatu hal, karena asumsi yang berlebihan. Sesuatu yang berlebihan memang tak pernah baik.

Sayangnya kebohongan mengaburkan kebenaran yang pahit. Lebih sering dalam hal berbuat baik.

Adanya berita yang mengungkap tentang pengemis memiliki uang milyaran, membuat kita berdecih saat melihat pengemis yang ‘benar’. Adanya berita mengungkap wanita peminta-minta yang menggendong anaknya, sebenarnya memberi obat tidur pada bayi sewaan agar mereka tidak rewel dan tetap tidur selama beraksi sebagai peminta-minta, membuat kita saat melihat hal yang sama, akan bergumam “paling itu bohongan”.

Lalu pemahaman kita terbangun, bahwa orang yang peminta-minta/pengamen/pemulung adalah orang licik yang mengada-ada.

Padahal kalau kita pikirkan kembali, dizaman dimana smartphone canggih lebih utama ketimbang makanan bergizi, siapa sih yang mau terlihat susah hidupnya? Hari ini, semua orang pamer apapun, pamer uang, pamer perjalanan, pamer harta, bahkan pamer wajah yang rupawan meski hanya editan.

Sungguh, tak ada yang ingin terlihat miskin. Namun jika dia ‘benar’ orang tak berpunya, kau bisa lihat perbedaannya dengan dirimu.

Jika kau kedatangan seorang ibu yang mengaku tersesat, rumahnya jauh di desa, dan tidak punya ongkos untuk pergi. Apa yang akan kau lakukan? Mengusirnya, karena dia bisa saja berbohong? atau memberinya pertolongan?

Sebelum menjawab, tolong dengarkan aku dulu. Tuhan meminta pertanggungjawaban darimu, jika ada saudaramu yang mati kelaparan sedang kau berlebih dalam harta. Jangan lupakan juga, bahwa Tuhan akan meminta pertanggungjawaban dari setiap orang yang berbohong. Cepat atau lambat, Tuhan akan membalasnya. Lalu apalagi yang kau risaukan?

Jika ibu itu berbohong, sungguh tak ada hubungannya denganmu, itu urusannya dengan Tuhan. Tapi jika ibu itu bersaksi benar, dan kau mengusirnya, apa yang kau jawab jika Tuhan meminta pertanggungjawabannya?

Maka, tak perlu ragu, jika kau mampu dan bisa membantu. Karena sungguh, bilapun ia berbohong, kau tidak rugi. Tidak. Karena kebaikanmu, bukan dia yang akan membalasnya, tapi Tuhan.

Saat semua orang sudah tak ragu dalam membantu sesama, lihatlah, kehidupan akan semakin baik, semakin damai dan aman. Mungkin tak akan ada lagi aksi kriminal mengatasnamakan kemiskinan/kesusahan.

Saat dunia sudah seperti ini, tolong beritahu aku.

Sajak ini sebelumnya tayang di wattanabe.wordpress.com dengan judul “Bagaimana jika bukan?” 24.04.20

Related Post

1 Trackback / Pingback

  1. Bagaimana jika bukan? – watanabe -渡辺-

Leave a Reply

Your email address will not be published.


*


Copy Protected by Chetan's WP-Copyprotect.