Bebenah dan Menyimpan ala Marie Kondo [2]

assorted-color apparels

Ini adalah artikel lanjutan dari Bebenah ala Marie Kondo. Part kedua ini akan membahas tentang cara bebenah dan menyimpan barang ala Konmari. Akan diingatkan kembali, bahwa urutan kategorinya yaitu Pakaian, Buku, Kertas, Komono/pernak-pernik dan Benda Sentimental.

Memilah Pakaian.

Pakaian akan dibagi lagi menjadi subkategori yaitu Atasan, Bawahan, Pakaian yang mesti digantung (setelan jas, jaket, mantel dll), Kaus kaki, Baju dalam, Tas, Aksesori (syal, topi, sabuk, dll), Pakaian untuk acara khusus (seragam, baju renang, kimono, dll), Sepatu.

Cara membereskannya, yaitu ambil semua barang kategori pakaian, dan letakkan di laintai. Kemudian pilihlah barang-barang tersebut dengan cara menyentuhnya satu-persatu dan tanyakan dalam hati, apakah ini spark joy? Anggap saja seperti saat kita sedang memilah barang yang bagus di sebuah toko.

Ingatlah kembali, pastikan kita sudah mengumpulkan semua pakaian kita dirumah dan pegangi semuanya satu-persatu. Peraturannya adalah, bila kita sudah yakin mengumpulkan semua barang di kategori pakaian, dan telah selesai memilahnya, maka saat kita menemukan ada barang yang tertinggal kita harus dengan tegas mengeliminasinya, kecuali barang tersebut sedang ada di laundry.

Jangan lupa ucapkan terima kasih pada barang yang akan kita donasikan/buang, sebagai penghargaan atas pengabdian mereka selama ini :’).

Menyimpan Pakaian.

Bila sudah selesai melakukan seleksi, maka waktunya untuk menyimpan pakaian. Cara menyimpan pakaian ada 2, bisa dilipat dan digantung. Dengan melipat, kita bisa mengirit tempat sekaligus menyalurkan energi kita ke pakaian tersebut, dalam bahasa Jepang disebut te-ate artinya menyembuhkan/menempelkan tangan.

Bila kain dilipat rapi, kainnya akan menjadi kencang tidak kusut sehingga lebih kuat dan terlihat menarik. Pakaian yang dilipat rapi, memiliki daya tahan dan kemilau yang kelihatan, berbeda dengan yang asal dijejalkan ke dalam laci/lemari. Lebih dari itu, melipat merupakan ungkapan kepedulian, ekspresi kasih sayang dan penghargaan kita terhadap pakaian yang sudah menopang gaya hidup kita.

Untuk menyimpan barang, kuncinya adalah memberdirikannya, bukan ditumpuk. Supaya bisa disimpan berdiri, pakaian perlu dilipat dengan ringkas. Mungkin kita akan berpikir, nanti kusut kalau dilipat. Padahal yang membuat pakaian kusut adalah tekanan, bukan lipatan.

Lipatlah tiap lembar pakaian menjadi bentuk segiempat yang mulus (sebaiknya teman-teman searching di youtube perihal cara melipat pakaian ala konmari, karena saya yakin, melihat video jauh lebih mudah untuk dipahami dibanding membaca tulisan :D).

Lantas pakaian seperti apa yang digantung? Baiknya yang berjenis setelan jas, jaket, mantel, rok, gaun, bahan kain yang halus/berkibar bila terkena angin, dan pakaian yang banyak ornamennya. Bagaimana supaya lemari kita tidak berantakan lagi?

Tips berikutnya, untuk lemari gantungan susunlah pakaian agar menaik ke arah kanan. Jadi pakaian yang lebih panjang berada di sebelah kiri, dan pakaian yang lebih pendek ada di sebelah kanan. Pun sama dengan warna, ada baiknya warna lebih gelap berada di sebelah kiri dan warna lebih terang berada di kanan. Garis yang menanjak ke kanan cenderung membuat kita lebih enteng dan merasa nyaman.

Menyimpan kaus kaki, jangan digulung/digumpalkan seperti donat/diikat. Karena posisi demikian dapat membuat kaus kaki/stoking rusak. Sebaliknya tumpuklah kaos kaki dan lipat, simpan dengan cara diberdirikan.

Ilustrasi bebenah dan menyimpan ala konmari. Foto: Unsplash/Chuttersnap

Menyimpan buku.

Saat menyeleksi buku, benar2 dipegang dan tanyakan pada diri sendiri, apakah membangkitkan kegembiraan. Jangan menyisihkan buku untuk dibaca kapa-kapan, karena artinya buku itu akan terlupakan dan tak dibaca.

Menyimpan kertas.

Sebaiknya kita hanya menyimpan kertas yang termasuk dalam ketiga kategori berikut : masih dipakai, diperlukan selama kurun waktu tertentu, atau harus disimpan hingga waktu tak terbatas.

Menyimpan pernak-pernik/komono.

Simpan saja barang yang kita sukai, bukan menyimpan hanya karena pengen. Hadiah merupakan salah satu kategori komono. Hadiah bukanlah benda, melainkan sarana untuk mengungkapkan perasaan seseorang. Fungsi sejati hadiah adalah untuk diterima. Jadi tidak perlu merasa bersalah jika harus mengikhlaskan hadiah untuk disumbangkan/disingkirkan. Namun akan lebih baik memang jika hadiah tersebut bisa kita gunakan, tapi jika kita tidak membutuhkannya tentu lebih baik disumbangkan. Uang receh merupakan raja dari kategori komono. Terapkan prinsip “masuk dompet” untuk uang receh. Tak perlu menyimpan uang receh untuk koleksi/tanpa tujuan jelas. Jangan mengirim sampah/barang2 yang akan disingkirkan ke rumah orang tua kita. Rumah mereka bukanlah tempat penampungan barang. Orang2 cenderung tidak pernah mengambil kotak yang dipulangkan, Begitu dikirim, kotak itu tak akan di buka lagi.

Saat kita menyortir barang kenang-kenangan, yang harus dihargai baik2 adalah diri kita yang sekarang, bukan kenangan. Tempat yang kita tinggali saat ini, adalah untuk diri kita yang sekarang, bukan diri kita di masa lalu.

Menyortir foto. Makna sebuah foto terletak pada antusiasme dan kegembiraan yang anda rasakan ketika mengabadikannya. Foto yang sungguh berarti memang tidak banyak, maka pilihlah foto yang2 benar2 membuat anda gembira. Sortirlah satu-persatu.

Selagi mengurangi barang2 yang kita miliki melalui proses berbenah, kita akan sampai di titik dimana kita merasa pas dengan jumlah barang yang kita miliki. Konmari menyebutnya titik pas. Bila sudah mencapai titik tersebut, jumlah barang yang kita miliki takkan bertambah lagi. Saat memilah barang, jangan fokus untuk membuang, tapi fokus memilih barang yang membangkitkan bahagia, agar dapat menikmati hidup sesuai standar kita masing-masing.

Artikel ini sebelumnya tayang di wattanabe.wordpress.com dengan judul ‘’Buku The Life Changing Magic of Tidying Up Part 2” 17.09.19

Related Post

Be the first to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.


*


Copy Protected by Chetan's WP-Copyprotect.