Fakta Kosmetik: Menjadi Konsumen Cerdas

three makeup brushes on top of compact powders

Seberapa besar pengetahuan kita tentang kosmetik? Tentu hal yang dilihat bukanlah seberapa cantik dalam merias diri, tetapi fakta kosmetik dari mulai penggunaannya, labelnya bahkan bahan-bahan yang menyusunnya. Namun bukan berarti kita perlu meneliti satu persatu produk yang kita gunakan, itu adalah pekerjaan FDA/BPOM. Tetapi sebagai konsumen, kita juga perlu melengkapi diri dengan berbagai informasi terkait produk yang kita gunakan. Berikut merupakan fakta kosmetik yang perlu kita ketahui :

Fakta 1 : Penggunaan maskara yang salah, dapat mencederai mata.

Risiko paling serius dari penggunaan maskara adalah, tidak sengaja menggores mata menggunakan aplikator maskara, dan mendapatkan infeksi dari benda tersebut. Penggunaan maskara yang aman, perlu mengikuti aturan sebagai berikut :

  • Jangan memakai maskara diatas kendaraan bergerak. Mata akan mudah tergores jika terbentur atau kendaraan terhenti tiba-tiba.
  • Bila maskara mengering, jangan ditambahkan air atau bahkan air liur ke dalamnya (yuck). Hal ini dapat menambah kuman yang mungkin tumbuh dan bisa menyebabkan infeksi. Semakin lama umur maskara, semakin besar kemungkinan kuman tumbuh di dalamnya. Buanglah maskara setelah dipakai selama 3 bulan.
  • Jangan pernah berbagi maskara walaupun dengan sahabat,berbagi maskara akan menyebarkan kuman.
  • Hapus semua riasan, termasuk maskara sebelum tidur. Serpihan maskara dapat masuk ke mata dan menyebabkan infeksi.

Fakta 2 : Jangan menggunakan pewarna rambut untuk mewarnai alis dan bulu mata.

Meski alis dan bulu mata juga tergolong rambut, namun pewarna rambut tidak boleh digunakan untuk alis atau bulu mata, karena dapat menyebabkan kebutaan. Memang ada warna yang disetujui dan aman untuk pensil alis dan maskara, tetapi tidak ada pewarna rambut yang dibolehkan untuk mewarnai alis dan bulu mata.

Fakta 3 : Produk “Cruelty Free” atau “Tidak Diuji pada Hewan”

Produk cruelty free bukan berarti tidak ada pengujian hewan yang dilakukan pada produk dan bahannya. Sebuah perusahaan menyebut produknya cruelty free karena tidak melakukan pengujian pada bahan-bahan terkait saat ini, meskipun bahan tersebut mungkin telah diuji pada hewan di masa lalu. Dalam kata lain, mungkin klaim yang akurat adalah “tidak ada pengujian baru pada hewan”.

Fakta 4 : Produk berlabel organik atau alami, belum tentu hipoalergenik

Ingat, bahwa poison ivy (tanaman merambat di Amerika Utara, dari family kacang-kacangan yang dapat mengeluarkan minyak yang menimbulkan iritasi dari daunnya dan dapat menyebabkan dermatitis) juga alami! Tapi bukan berarti kita menginginkannya pada kulit kita, bukan. Karenanya, sangat mungkin, produk yang berlabel organik atau alami kemungkinan menyebabkan reaksi alergi atau iritasi pada kulit kita. Seperti contoh, lanolin, dari bulu domba, merupakan bahan alami yang umum terdapat di produk pelembab yang kadang menyebabkan reaksi alergi.

Sumber: U.S Food and Drug Administration Center for Food Safety and Applied Nutrition Office of Cosmetics and Colors. How Smart Are You About Cosmetics? 2000.

Related Post

Be the first to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.


*


Copy Protected by Chetan's WP-Copyprotect.