Menghargai

Setiap kali membuka LinkedIn, ada saja postingan menarik yang layak untuk direnungkan. Kali ini, aku agak tertegun membaca postingan ini. Aku berkata dalam hati, aku pernah melaluinya. Memang, tahun-tahun yang penuh dengan tekanan dan kerja keras.

Bahkan sejak dulu, hingga sekarang, aku masih belum tahu bagaimana cara “menghargai” diri sendiri. Benar, miris sekali. Tapi Tuhan selalu menghibur dengan berbagai pelajaran berharga, yang tidak akan saya dapatkan, jika saya tidak melalui ini semua.

Dari pertama kali berkerja (sebagai tutor di sebuah lembaga bimbingan belajar), tidak pernah sekalipun memikirkan berapa gajinya. Aku tidak pernah menghitung, akan dapat berapa bulan ini, dengan jadwal mengajar yang padat/renggang. Tidak, sekalipun tidak.

Aku hanya tekun belajar biologi, untuk diajarkan pada murid SMA, meski aku hanya belajar biologi secuil saja saat SMK. Aku hanya berusaha menjadi pengajar yang bisa membuat murid-murid paham, bahkan untuk materi sesulit perkembangbiakan sel sekalipun.

Aku hanya berusaha, bagaimana supaya bisa memberikan yang terbaik. Tanpa pernah meminta agar diberi jadwal yang padat, hingga panen pundi-pundi keuangan di akhir bulan.

Pekerjaan kedua, jauuuuh lebih menantang baik dari sisi mental maupun pengetahuan. Berada di lingkungan dosen FKUI sekaligus dokter rumah sakit rujukan nasional, membuat saya banyaaaaaak sekali mendapatkan pelajaran berharga di setiap harinya.

Tekanannya sangat besar, lelah di perjalanan, tapi itu semua menempaku menjadi manusia yang jauh lebih kuat, dan lebih baik pada saat ini. Saya tidak pernah menyesal, malah bangga pernah menjadi bagian kecil disana.

Bahkan hingga kini, aku hanya tahu bekerja dengan baik, melakukannya semaksimal mungkin. Mungkin bagi sebagian orang, bekerja maksimal tanpa peduli harga dari dirinya, adalah suatu kebodohan. Tapi untuk saat ini, aku masih berpegang teguh bahwa selama masih ada ilmu yang bisa dipelajari, tidak apa-apa tetap bertahan. Tuhan tidak akan membiarkan kamu letih sendirian, jikalau harga yang kamu dapatkan tidak sepadan dengan kerja kerasmu, Dia akan membayarnya melalui jalan yang lain. Entah keluargamu selalu sehat, ekonomimu baik-baik saja, atau bahkan kehidupanmu sepertinya penuh dengan kebetulan menyenangkan yang sebenarnya Dia sengajakan untuk mempermudahmu. Dan sebaliknya, bila hargamu terlalu tinggi untuk pekerjaanmu yang tidak seberapa, Dia juga tak akan membiarkanmu menikmatinya sendirian. Ketahuilah, Dia tidak tidur.

Namun, jangan mengikuti jalan diatas ruteku, karena ini terlalu naif bagi sebagian orang, carilah dan tentukan harga yang pantas untuk dirimu. Akupun perlahan akan menemukan harga yang pantas untuk diriku sendiri. Sementara itu, aku akan terus belajar, berproses, hingga Dia berkata “kamu layak mendapatkan yang lebih baik”.

01.05.21

Related Post

Be the first to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.


*