Paradoks Hidup

Pernahkah kalian mengalami paradoks, seperti kesepian dalam keramaian. Siapa bilang tidak mungkin, bisa saja terjadi padamu.

Suatu ketika, kamu berlama-lama mengerjakan sesuatu, bukan malas. Terlebih karena membutuhkan persetujuan. Namun yang terjadi, kau ditegur. Maka kau berjanji (dalam hatimu) akan membereskan pekerjaan segera.

Pada kesempatan berikutnya, kamu mengerjakan pekerjaan dengan cepat. Namun yang terjadi, tetap bermasalah. Dan masalah itu kamu juga yang bersusah-payah mencari penyelesaiannya. Paradoks bukan?

Suatu ketika kau disuruh mengantar surat kepada seseorang yang dituakan/dihormati/senior oleh atasanmu. Senior itu datang, tapi dia sampaikan ke atasanmu, bahwa tak ada satupun surat yang datang padanya. Akhirnya atasanmu menegurmu. Setelah senior itu pergi, atasanmu meminta maaf padamu dan bilang (sepertinya dia lupa dan sering seperti itu, maaf ya, aku tahu kamu sudah menyampaikan).

Suatu ketika, kamu berjumpa dengan orang paling baik, berhati malaikat, dengan jabatan tinggi, ilmu mumpuni dan sikap yang terpuji. Betapa gelar/ilmu tak menjadi tembok baginya untuk bergaul dengan semua kalangan. Disaat semua orang (termasuk kamu) mempersilahkan ia untuk masuk lift lebih dulu saking menghormatinya, ia malah mengancammu untuk melangkah lebih dulu. Ia bilang, kau dan aku tak berbeda, kenapa harus menyilahkanku duluan, padahal aku ada di urutan belakang. Kalimat itu hanya akan diucapkan oleh orang yang tidak punya “penyakit” di hatinya.

Pada kesempatan berikutnya, ada orang dengan profesi serupa, namun umur/ilmu/sopan santun sangat jauh berbeda dengan orang yg berhati malaikat tadi. Setiap ucapan yang keluar, sangat tidak nyaman didengar. Sudahlah ilmu minim, kesopanan minim apalah yang bisa dibanggakan.

Seberapa banyakpun menemukan paradoks di kehidupan, tak ada artinya jika kau tak bisa mengambil pelajaran dari setiap paradoks itu. Maka, bukalah hatimu, bercerminlah, jika berlaku salah maka perbaikilah. Jika ada hal yang tak beres, benahilah dengan santun. Jika memiliki ilmu/jabatan/harta, rendah hatilah. Karena di hari pembalasan, yang berguna bukanlah IQ, bukanlah jabatan atau harta yang ditumpuk. Tapi amal dan keridhoan orang-orang yang mendoakan kebaikan untuk diri kita karena telah berbuat baik pada mereka.

Artikel ini sebelumnya tayang di wattanabe.wordpress.com dengan judul ‘Paradoks Hidup” 18.01.19

Related Post

Be the first to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.


*