Pendirian

Dalam hal apapun, baik itu bekerja maupun bersosialisasi, usahakan selalu punya pendirian. Agar tidak mudah terbawa kepada “hal negatif”, agar value diri yang teguh selalu melekat.

Dulu sulit sekali memiliki pendirian. Selalu mengikuti kebutuhan orang lain, selalu ingin menyamankan/menyenangkan orang lain. Sulit sekali berkata tidak. Seiring waktu, hal ini justru memberi nilai positif bagi diri sendiri. Dicap loyal, berdedikasi dan bertanggungjawab. Bagus memang jika bisa adil.

Seiring waktu, ternyata berpendirian tidak sulit. Utamakan kewajiban saja dulu, kemudian kebutuhan. Dalam kasus saya, saat orang-orang masih sibuk bekerja, padahal adzan sudah memanggil, tidak apa-apa jika berhenti dan memenuhi panggilan solat meski sendirian.

Atau dalam hal sekecil, orang lain sering terlambat, ya biarkan saja, kita tetap saja datang tepat waktu. Orang lain pulang duluan sebelum waktunya, ya biarkan saja, kita pulanglah sesuai jadwal kita biasanya. Saat kita berpendirian, kita tidak mudah terganggu dengan “habit” orang lain.

Dulu, saya selalu pulang tepat waktu jika tidak ada pekerjaan mendesak, jam 4 sore. Meski orang-orang sudah mengajak saya pulang, meski atasan saya sudah pulang duluan. It doesn’t matter. Saat itu saya sudah berpendirian, bahwa kerjaan beres adalah bentuk tanggung jawab saya ke atasan, dan gaji yang halal (bekerja sesuai kesepakatan, datang jam berapa, pulang jam berapa, apa yang dikerjakan), adalah bentuk tanggung jawab saya ke Tuhan.

Lucu memang, bahkan sejak masih mahasiswa saya sudah punya pendirian seperti itu.

Saya sangat berterima kasih kepada rekan-rekan kerja saya sebelumnya, yang membuat saya memiliki pendirian seperti itu. Saya baru sadar, menjadi bahan perbincangan, bahkan jauh setelah saya tidak lagi bekerja disana. Lucu jika diingat-ingat. Seseorang membicarakan mengenai jam mengajar saya yang terlalu banyak (padahal saya new comer), yang mana, penentuan jam mengajar ini adalah tugas bagian kurikulum. Semakin banyak jam mengajar, maka penghasilan juga semakin besar. Dia berbincang dengan temannya, bahwa junior tidak pantas “melangkahi” jam terbang senior. Wah, saya saat itu mendengarnya agak kaget, mereka membicarakan saya apa bukan ya, tapi kok deskripsinya mirip saya.

Sejak awal saya bekerja, baik itu paruh waktu atau penuh waktu, jujur saja, saya tidak terlalu memikirkan gaji. Saya hanya senang hati bekerja, berteman dan belajar banyak hal dalam pekerjaan.

Karena apasih yang kita cari di dunia ini, selain keridha-anNya?

03.03.21

Related Post

Be the first to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.


*