Segelintir Masalah Kesehatan Lingkungan

woman in black jacket and blue denim jeans standing on green grass field near body of on on on with

Menurut WHO, kesehatan lingkungan merupakan suatu keseimbangan ekologi yang harus ada antara manusia dan lingkungan agar dapat menjamin keadaan sehat bagi manusia (kesling.ph-gmu.org). Dapat disimpulkan dari definisi tersebut yaitu manusia bisa sehat, jika lingkungan sekitarnya juga sehat. Lingkungan sekitar manusia yang juga dapat menjadi media transmisi penyakit diantaranya air, udara, pangan dan serangga (Achmadi, 2011). Bagaimanakah kondisi lingkungan yang ada di Indonesia?

Sanitasi, hygiene yang buruk dan air minum yang tidak aman memiliki kontribusi pada 88% kematian anak akibat diare di seluruh dunia (UNICEF, 2012).  Diare di Indonesia masih menjadi penyebab utama kematian dari anak dibawah umur lima tahun. Hal ini disebabkan masih banyaknya masyarakat yang menggunakan sumur terbuka untuk air minum, selain itu buang air besar di sungai/ sembarang tempat memperparah kondisi ini. Saat ini, provinsi yang memiliki kinerja baik seperti Jawa Tengah dan D.I Yogyakarta bahkan satu dari tiga rumah tangga tidak memiliki akses terhadap air bersih.

Padahal dampak yang ditimbulkan akibat air ini banyak sekali, diantaranya diare, disentri, kolera, leptospirosis, malaria, demam berdarah, tipus, hepatitis, kudis dan infeksi parasit usus. Dengan kondisi Indonesia yang demikian, apa yang dapat dilakukan? Tentu saja harus menghemat air, dan membiasakan diri untuk melakukan hygiene yang benar misal membiasakan cuci tangan dan mandi.

Selain membutuhkan air untuk kehidupannya, manusia juga butuh udara untuk bernafas. Udara yang sekarang tersedia telah mengandung berbagai bahan pencemar. Bahan pencemar dapat berasal dari aktifitas rumah tangga, asap buangan kendaraan bermotor, cerobong dari industry dan kebakaran. Terdapat parameter yang dijadikan pedoman untuk menentukan udara sudah tercemar atau tidak, diantaranya Sulfur dioksida (SO2), Karbon monoksida (CO), Nitrogen dioksida (NO2), Ozon (O3), Hidro karbon (HC), PM 10, PM2.5, Debu, Pb (Timah hitam), Dustfall (Debu jatuh) (PP 41 Tahun 1999 dalam Depkes).

Studi yang dilakukan oleh Ditjen PPM & PL tahun 1999 di 3 kota besar yang ada di Indonesia diantaranya; Jakarta, Yogyakarta dan Semarang menunjukkan bahwa kualitas udara di tempat tersebut telah menurun. Tahun 2010, warga Jakarta menderita beragam penyakit yang terkait pencemaran udara seperti asma, bronkopneumonia, penyakit paru obstruktif kronis hingga penyakit jantung koroner dan harus membayar biaya kesehatan tersebut sebesar Rp 38,5 triliun (Karliansyah, 2013).

Pada tahun 2010, volume kendaraan di Indonesia mencapai 76.907. 127 unit termasuk didalamnya mobil penumpang, bus, truk dan kendaraan bermotor. Terjadi peningkatan volume kendaraan di tahun 2011 yaitu mencapai 85.601.351 unit (Kantor Kepolisian Republik Indonesia ). Volume kendaraan di Jakarta tahun 2010 mencapai 6,7 juta unit (Koalisi TDM), dengan 6,7 juta unit kendaraan dapat mengakibatkan warga harus membayar hingga 38,5 triliun untuk biaya kesehatan. Bagaimana dengan volume yang terus bertambah dari tahun ke tahun?

Pemilikan kendaraan bermotor saat ini sangat mudah, sehingga dalam satu keluarga bisa memiliki lebih dari satu kendaraan. Hal ini dapat berdampak negative tidak hanya bagi manusia setempat, tetapi berpengaruh juga pada dunia. Bagaimana tidak, banyaknya kendaraan harus dibarengi dengan kebutuhan bahan bakar yang cukup (minyak bumi). Padahal minyak bumi merupakan salah satu sumber daya alam yang tidak bisa diperbaharui. Selain membuat bahan bakar menjadi langka, asap yang dihasilkan kendaraan dapat melepas berbagai zat pencemar yang dapat meningkatkan potensi gas rumah kaca dan secara tidak langsung menyebabkan pemanasan global.

Pemanasan global dapat mengakibatkan banyak kerugian, diantaranya pencairan es di kutub yang dapat mengakibatkan ketinggian air laut meningkat, gelombang panas, semakin kuatnya angin dan badai serta masih banyak kerugian yang akan didapatkan oleh manusia. Sebelum terlambat, mari lakukan hal kecil yang menjadi akar masalahnya yaitu mengurangi penggunaan kendaraan pribadi. Dengan memanfaatkan transportasi publik, kita sudah mengurangi volume kendaraan yang beredar di jalan raya, sehingga dengan berkurangnya volume kendaraan dapat memberikan peluang berkurangnya kemacetan. Kendaraan yang jarang dipakai, secara langsung mengurangi asap kendaraan yang mengandung banyak zat pencemar sehingga udara ambient menjadi berkurang bebannya. Jangan lupa untuk selalu gunakan masker saat bepergian agar mencegah timbulnya penyakit akibat pencemaran udara.

Masalah kesehatan lingkungan bukan hanya pada air dan udara, masih banyak masalah yang terjadi pada pangan, serangga, dan juga sampah. Masalah tersebut tidak bisa diselesaikan jika kita sebagai individu tidak memulainya dari sekarang. Maka dengan semangat ‘hijau’ mari kita jaga dan lestarikan lingkungan hidup kita yang bernama Bumi agar kelak tetap nyaman ditempati oleh anak dan cucu kita. Selamat Hari Kesehatan Lingkungan Sedunia 2013.

Sumber :

Achmadi, 2011. Penyakit Berbasis Lingkungan. Jakarta : PT. Raja Grafindo Persada

Anonim. 2009. Kesehatan Lingkungan.  

Departemen Kesehatan. Parameter Pencemar Udara dan Dampaknya Terhadap Kesehatan

Perkembangan Jumlah Kendaraan Bermotor Menurut Jenis Tahun 1987-2011.

Karliansyah. 2013. Kebijakan Fuel Economy : Pengendalian Pencemaran Udara dan Perubahan Iklim

Koalisi TDM. Electroninc Road Pricing. 

UNICEF. 2012. Air Bersih, Sanitasi dan Kebersihan

Artikel ini sebelumnya tayang di wattanabe.wordpress.com, dengan judul ” Segelintir Masalah Kesehatan Lingkungan” 26.09.13

Related Post

Be the first to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.


*