Sistem Informasi Geografis (SIG) for NCD

person holding black smartphone

PENDAHULUAN

Dalam bidang kesehatan, Sistem Informasi Geografis digunakan untuk menggambarkan keadaan kesehatan, analisis epidemiologi dan manajemen kesehatan masyarakat. Pemanfaatan SIG dibidang kesehatan tak hanya pemanfaatan terhadap teknologi komputer di bidang SIG saja, tetapi juga diarahkan ke pembentukan informasi yang berbasis wilayah, pengembangan indikator, pengembangan teknologi manipulasi data serta analisis secara spasial. Dengan digunakannya teknologi komputer sehingga mempercepat proses analisa data geografi dengan volume yang lebih besar.

SIG juga dapat digunakan dalam melakukan surveilens maupun pemantauan kesehatan oleh fasilitas kesehatan, terutama puskesmas. Pada dasarnya puskesmas tidak hanya menekankan pada pendekatan kuratif saja, tetapi juga pendekatan preventif. Dalam memantau kesehatan pada wilayah cakupan puskesmas, penggunaan SIG adalah solusi terbaik. Selain mempermudah pengolahan data, juga dapat melakukan perencanaan program puskesmas.

ISI

Pengertian Sistem Informasi Geografis (SIG) :

Pada dasarnya sistem informasi geografi adalah gabungan dari beberapa pokok unsur yaitu sistem, informasi dan geografi. Berdasarkan unsur pokonya, maka sistem informasi geografi adalah suatu sistem yang menekankan pada informasi geografis. Istilah geografis merupakan bagian dari spasial (keruangan). Kedua istilah tersebut sering digunakan secara bergantian sehingga seringkali tertukar, dan timbul istilah ketiga yaitu geospasial. Tetapi ketiga istilah tersebut memiliki makna yang sama pada SIG. Istilah geografis memiliki pengertian sebagai suatu permasalahan mengenai bumi : permukaan dua maupun tiga dimensi. Informasi geografis memiliki pengertian informasi yang menjelaskan tempat-tempat yang ada di permukaan bumi, posisi dimana objek terletak di permukaan bumi, serta informasi mengenai atribut di permukaan bumi yang diketahui informasinya.

SIG dideskripsikan sebagai sebuah sistem alat berupa perangkat lunak dan metode yang digunakan untuk mengintegrasikan dan evaluasi data dari berbagai sumber dengan lokasi geografis sebagai kerangka kerja yang terintegrasi (Colantonio, dkk 2011). Menurut Burrough (1986) SIG didefinisikan sebagai sistem komputer yang dapat digunakan untuk memasukkan, menyimpan, mengelola, menganalisis dan mengaktifkan kembali data yang memiliki referensi keruangan untuk tujuan pemetaan dan perencanaan (Aini, 2007). Menurut Bailey (1990) Asosiasi Informasi Geografis mendefinisikan SIG dalam hal sistem manajemen database terkomputerisasi untuk menangkap, menyimpan, melakukan validasi, pemeliharaan, menganalisis, menampilkan, mengelola data spasial yang fungsinya utamanya mengintegrasikan data dari berbagai sumber (Pfeiffer dkk, 1994).

Menurut Cowen (1988) sistem informasi geografis merupakan suatu sistem untuk melakukan pemecahan masalah melalui integrasi rujukan data spasial serta penunjang dalam pengambilan keputusan (Indriasih, 2008). De Mers (1997) juga mengatakan bahwa SIG merupakan suatu alat yang menggunakan sistem komputer untuk memasukkan, menyimpan, memeriksa, mengintegrasikan, memanipulasi, menganalisa, serta menampilkan data yang berhubungan dengan posisi permukaan bumi (Indriasih, 2008). Menurut Sandy (1999) SIG adalah suatu sistem yang digunakan untuk mengolah informasi geografi. Informasi geografi memiliki makna yang sama dengan spasial atau keruangan (Indriasih, 2008).

Sistem informasi gegografis adalah sebuah sistem berbasis komputer (seperti perangkat keras, perangkat lunak dan prosedur).  Sistem infoemasi geografis merupakan sistem yang dapat menganalisis, membuat kueri, menyimpan kemudian menampilkannya sebagai data geografi. SIG dibagi dalam empat komponen (Kang 2002, dalam Bogor Agricultural) yaitu :

  1. Sistem komputer : berupa komputer dan sistem operasi dalam penggunaan SIG.
  2. Perangkat lunak SIG : merupakan pemrograman antar muka dalam menjalankan perangkat keras.
  3. Perangkat fikir : dimaksudkan pada tujuan, sasaran dan alasan dalam penggunaan SIG.
  4. Infrastruktur : merujuk kepada kebutuhan fisik yang berhubungan dengan organisasi dan lingkungan penggunaan SIG.

Kerangka Kerja SIG :

Secara logika data terbagi dalam dua kategori yaitu data spasial dan data tekstual. Adapun data spasial merupakan data yang berisi informasi geografis, sedangkan data tekstual merupakan data yang berisi informasi fitur spasial. Selain data, kerangka kerja selanjutnya adalah interpolasi. Interpolasi digunakan untuk memprediksi nilai yang tidak diketahui dari data titik geografis. Ada beberapa alasan untuk menggunakan interpolasi antara lain : mengunjungi setiap area yang akan di teliti agar dapat diperoleh nilai ketinggian, kekuatan, atau konsentrasi dari suatu fenomena yang biasanya sangat sulit atau mahal.

Shapefile menyimpan lokasi geografis dan informasi atribut titik, garis, dan polygon. Format ini dikeluarkan oleh Environmental Sistem Resource (ESRI) sebagai salah satu vendor terkemuka. Shapefile ESRI terdiri dari : main file, index file, dan table dBASE. Kerangka selanjutnya yaitu MapServer, aplikasi opensource untuk menampilkan data spasial ataupun peta melalui web. Mapfile berupa data file yang menyimpan berbagai konfigurasi untuk menggambarkan data spasial dan atribut dari shapefile ke bentuk halaman web. PostSIG  berguna untuk menyimpan tipe data geografis pada basis data relasional PostgreSQL. Framework SIG yang berbasis web adalah CartoWeb yang memiliki kerangka kerja modular dan dapat diubah. CartoWeb dapat digunakan untuk membangun aplikasi tingkat lanjut seperti analisis spasial.

Perkembangan SIG :

SIG digunakan secara nasional pertama kali di Canada tahun 1960, oleh Canada Geographic Information Sistem (CSIG). Melalui kompilasi dan inventarisasi potensi lahan produktif, SIG sebagai alat dalam proyek pengembangan kemampuan lahan nasional di Canada. Sejak proyek CSIG, SIG mulai intensif diterapkan terutama di Eropa dan Amerika, bahkan FAO menggunakannya sejak tahun 1970. SIG awalnya berasal dari dua independen ilmu yaitu kartografi dijital dan database. Kartografi dijital merupakan hasil perkembangan dari dunia disain Komputer Auto Design (CAD), sedangkan penggunaan database memungkinkan integrasi antara data spasial dan non spasial. Dalam perkembangan selanjutnya, SIG melibatkan berbagai disiplin ilmu yang menjadi cikal bakal perkembangan masa depan seperti remote sensing, fotogrametri, dan survei.

Pengertian NCD:

Secara global kejadian penyakit tidak menular meningkat, merupakan faktor utama dari angka kesakitan dan kematian. Laporan dari WHO tahun 2001 mengindikasikan bahwa penyakit tidak menular menyumbang angka kematian sebesar 60% dan menyumbang angka 46% beban penyakit di dunia. Negara-negara bagian Asia tenggara terutama memiliki beban ganda, disamping mengusahakan penurunan penyakit infeksi, penyakit non infeksi/ penyakit tidak menular juga mulai merebak dan menjadi beban negara. Menurut WHO, penyakit yang termasuk ke dalam daftar penyakit tidak menular antara lain : penyakit kardiovaskuler, kanker, diabetes mellitus, penyakit paru-paru obstruktif kronis dan termasuk kecelakaan. Penyakit tersebut memiliki angka kesakitan dan kematian tertinggi di wilayah Asia Tenggara. Penyakit tidak menular banyak terjadi di Negara berkembang karena Negara berkembang dalam proses transisi demografi dan pola hidup yang berubah pada masyarakatnya.

Sumber data yang dapat dijadikan acuan dari penyakit tidak menular antara lain :

  1. Data kematian : didapat dari sertifikat kematian, survei kasus kematian dan data rumah sakit.
  2. Data kesakitan : reSIGter penyakit, survei special, dan laporan rumah sakit.
  3. Data faktor risiko : survei regular dan survei special.

Penyakit tidak menular atau lebih dikenal dengan nama Non Communicable Disease,  biasanya terjadi karena penyebab yang kompleks, beberapa faktor risiko, periode laten yang panjang, gangguan fungsional atau cacat. Penyakit ini antara lain penyakit kardiovaskuler (diantaranya penyakit jantung, stroke, dan hipertensi), diabetes termasuk komplikasinya, arthritis, kanker, musculoskeletal, paru-paru kronis, dan gangguan neurologis kronis. Pada beberapa kondisi tertentu dapat menimbulkan akibat yang serius sampai kematian, namun penyakit tersebut dapat dicegah secara efektif. NCD merupakan penyebab kematian dan kecacatan utama di dunia. Empat penyakit NCD yang paling sering muncul adalah penyakit kardiovaskuler, kanker, penyakit paru obstruktif kronis dan diabetes. Penyakit-penyakit tersebut sering dihubungkan dengan faktor risiko kebiasaan merokok, pola makan yang tidak sehat dan kurangnya aktivitas olahraga.

WHO membuat klasifikasi berbasis populasi untuk digunakan sebagai penilaian dan pengawasan :

  1. Individu

Latar belakang : Seperti usia, jenis kelamin, tingkat pendidikan dan komposisi genetic. Perilaku : kebiasaan merokok, diet tidak sehat, dan tidak olahraga. Faktor penengah : LDL, diabetes, hipertensi, dan obesitas.

  1. Masyarakat

Kondisi social ekonomi: kemiskinan, pekerjaan. Lingkungan: iklim dan polusi udara. Kebudayaan: praktik, norma dan nilai-nilai. Urbanisasi: pengaruh akses ke produk jasa.

Penggunaan SIG pada Penyakit Tidak Menular :

Penggunaan aplikasi SIG tidak hanya digunakan pada distribusi penyakit, tetapi juga faktor risikonya. Peran utama SIG yaitu memvisualisasikan data dalam bentuk peta. Kualitas dan kuantitas data mempengaruhi kemampuan SIG dalam menemukan informasi baik dalam metodologi maupun analisis data kesehatan. SIG dapat mengelola data secara keruangan mengenai distribusi yang ditunjang analisis data secara komprehensif terkait lokasi kejadian penyakit. Berdasarkan lokasi, analisis dikembangkan terkait faktor determinan. Ada dua jenis analisis yang dapat dilakukan dalam melakukan analisis data kesehatan terkait kasus penyakit yaitu pertama lokasi kejadian dan faktor risiko lingkungan / demografi.

SIG didukung oleh beberapa subsistem diantaranya perangkat keras, perangkat lunak, data dan sumberdaya manusia. Perangkat keras merupakan media untuk mengoperasikan perangkat lunak maupun untuk melakukan input data. Perangkat lunak merupakan suatu alat untuk mengolah data spasial. Perangkat lunak ada yang berbayar dan bebas pakai. Perbedaan keduanya terutama pada metode analisis dan kelengkapan perangkat. Sumber data yang digunakan untuk pemetaan yaitu catatan rekam medis pasien yang berobat pada fasilitas kesehatan. Integrasi data merupakan suatu kunci penting dalam melakukan pemetaan pasien berbasis kejadian penyakit. Pencatatan nama dan alamat pasien termasuk hal penting untuk mengetahui kondisi lapangan. Setelah mengetahui alamat, maka dilakukan pemetaan berdasarkan wilayah administrative. Pemetaan penyakit berbasis wilayah dapat memberikan informasi mengenai kondisi lokasi kejadian, apakah lokasi tersebut terdapat faktor risiko terhadap penyakit. Selain catatan rekam medis, surveilens penyakit tidak menular juga dibutuhkan untuk memetakan kasus penyakit. Sebagian data dapat diidentifikasi langsung melalui survei/ wawancara, sebagian lain dapat menggunakan data penginderaan jauh.

Peta merupakan salah satu hasil output dari SIG, peta memberikan informasi mengenai lokasi kejadian penyakit serta faktor risiko terkait informasi demografis dan lingkungan. Salah satu alat yang dapat digunakan untuk memperoleh data adalah Global Positioning Sistem atau biasa disebut dengan GPS. Alat tersebut berfungsi untuk memperoleh data koordinat di lokasi kejadian. Penggunaan GPS termasuk dalam kategori survei, karena data koordinat akan diketahui setelah mengunjungi lokasi kejadian.

Menurut Sugandi, Sistem Informasi Geografi memiliki 5 komponen yaitu : ketersediaan data, Sumber Daya Manusia, software, hardware, dan prosedur. Data SIG dapat diperoleh dari berbagai sumber diantaranya : data tabular, data satelit, foto udara, peta dijital dan data dijital lainnya.

Penggunaan SIG pada penyakit tidak menular dikaitkan dengan faktor lingkungan. Banyak penelitian mengenai pencemaran lingkungan, namun tidak memasukkan aspek kesehatan. Beberapa waktu yang lalu, masyarakat dan media mencemaskan hubungan antara faktor lingkungan dengan kesehatan penduduk. Selama beberapa decade terakhir, telah dilakukan penelitian mengenai penyakit tidak menular. Dalam penelitian ini, terdapat peran besar dari studi epidemiologi, studi hewan dan biokimia dasar, intervensi dan pencegahan berbasis komunitas.

Negara Atlanta menggunakan SIG untuk melihat dampak polusi udara terhadap kesehatan. Dengan adanya SIG, ahli kesehatan masyarakat dapat mengidentifikasi, dan menentukan populasi yang berisiko, memperkirakan beban risiko, dan menentukan korelasi antara risiko dan dampak terhadap kesehatan. Studi lain yang terkait dengan lingkungan(CDC Atlanta), mempersiapkan pedoman skrining terhadap kasus keracunan pada anak-anak. Biro Lingkungan dan Epidemiologi Atlanta menggunakan Sistem Informasi Geografis dalam mengembangkan pedoman skrining untuk seluruh Negara bagian. Perangkat lunak dari Sistem Informasi Geografis contohnya adalah ArcView, dengan perangkat tersebut CDC membuat variasi pada pedoman skrining sehingga pemeriksaan data skrining menjadi lebih cepat dan mudah.

Penggunaan SIG dalam sebuah penelitian dari diabetes tipe I, diantara anak-anak usia dibawah 5 tahun di Jerman untuk menganalisis temporal, musim, dan geografis menunjukkan bahwa terjadi peningkatan kejadian yang signifikan dalam satu tahun ditemukan pada anak yang berumur 3 dan 4 tahun saja. Pada musim panas terjadi insiden yang tinggi dibandingkan musim dingin dan musim semi, pada daerah utara diabetes lebih banyak ditemukan daripada di daerah selatan. Dari hasil penelitian, dapat ditemukan bahwa temporal, musim dan geografis (faktor lingkungan) dapat mempengaruhi etiologi penyakit.

Fungsi SIG juga dapat berguna untuk mengidentifikasi kadar cadmium pada tanah persawahan seperti yang dilakukan oleh Negara Taiwan. Peningkatan praktik industri dan agrikultur di Taiwan diperkirakan dapat meningkatkan dampak yang potensial bagi kesehatan. Agen Proteksi Lingkungan di Taiwan atau dapat disingkat TEPA mengambil sampel tanah pada empat kota besar di Taiwan diantaranya Changhua, Yunlin, Nantou, dan Chiayi. Menurut hasil penelitian, ditemukan kadar cadmium dan logam berat lainnya tertinggi di kota Changhua. Berdasarkan studi geostatistik dan distribusi dari saluran irigasi, area persawahan yang berdekatan dengan Changhua diduga akan tercemar polutan logam berat. Cadmium merupakan logam berat yang dapat masuk ke dalam tubuh manusia dan terakumulasi. Logam tersebut dapat menyebabkan kerusakan ginjal, kanker paru-paru dan penyakit itai-itai yang pernah terjadi di Jepang silam. Dalam memberikan estimasi efek kesehatan pada kandungan cadmium dalam tanah, digunakan SIG yang dapat menunjukkan prediksi yang akurat mengenai tanah tercemar, mengaplikasikan perkiraan risiko cadmium antara lingkungan dan kesehatan masayrakat.

Aplikasi SIG membutuhkan database spasial dijital, karena data tersebut sangat mencerminkan kualitas dan kuantitas kebenaran data dari bahaya penyakit, pajanan dan dampak yang ditimbulkan. Bagian terpenting adalah hubungan antara lingkungan dan sistem surveilens serta analisis penyakit berbasis SIG

Daftar Pustaka

Anonym. Bogor Agricultural University. diakses 20 April 2012 (10:40)

Anonym. 2002. Noncommunicable diseases in South-East Asia Region. diakses 20 April     2012 (08:30)

Aini, Aisah. 2007. Sistem Informasi Geografi.  diakses 19 April 2012 (18:00)

Chiang, Huan-Po, dkk. 2011. A SIG-Aided Assessment of the Health Hazards of Cadmium in    Farm Soils in Central Taiwan. International Journal Environmental Research and Public   Health. www. mdpi.com/journal/ijerph. diakses 19 April 2012 (22:30)

Colantonio, Angela dkk. 2011. Using Geographical Information Sistem Mapping to Indentify      Areas Presenting High Risk for Traumatic Brain Injury.  diakses 17 April 2012 (18:45)

Cromley, Ellen K. 2003. SIG and Disease. Annual Review of Public Health ; 2003; 24; Proquest.  diakses 18 April 2012 (15:35)

Darmawan, Mulyanto. 2011. Sistem Informasi Geografi dan Standarisasi Peta Tematik. diakses 14 April 2012 (13:28)

Hasyim, Hamzah. 2008. Manajemen Penyakit Lingkungan Berbasis Wilayah. Jurnal Manajemen Pelayanan Kesehatan, Vol. 11 No. 2 juni 2008. diakses 21 April 2012 (18:54)

Indriasih, endang. 2008. Sistem informasi geografis. diakses 18 April 2012 (14:40)

Nababan, Donal. 2008. Hubungan Faktor  Risiko dan Karakteristik Penderita dengan Kejadian    Penyakit Jantung Koroner di RSU Dr. Pringadi Medan. diakses 19 April 2012 (17:30)

Pfeiffer, DU dkk. 1994. Application of SIG in Animal Disease Control. diakses 19 April 2012 (15.37)

Shah, Samsul Azhar. 2004. SIG Application in Communicable and Non-Communicable Disease  –An Overview. diakses 20 April 2012 (12.30)

Sugandi, dede. Model Pemantauan Masyarakat Kota dan Pedesaan dengan Teknik Iridologi dan Sistem Informasi Geografis. diakses 18 April (22:45)

Utomo, Suprastyo. 2009. Pemanfaatan Mapserver dalam Aplikasi Sistem Informasi Geografi Kota Bogor.  diakses 21 April 2012 (17:40)

Widagdo, Adi. 2008. Aplikasi Sistem Informasi Geografis dalam Pemetaan DBD di Yogyakarta. Jurnal Kebencanaan Indonesia Vol.1 No.5 November 2008.  diakses 17 April 2012 (19:50)

Artikel ini sebelumnya tayang di wattanabe.wordpress.com, dengan judul ” Sistem Informasi Geografis (SIG) untuk Penyakit Tidak Menular (Non Communicable Disease)” 17.05.14

Related Post

Be the first to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.


*