Teh celup sebaiknya diangkat sebelum 3 menit!

clear glass cup with tea near brown ceramic teapot

Siapa disini yang suka minum teh? Sejujurnya saya pun suka minum teh, apalagi pagi-pagi minum teh hangat. Isu tentang potensi bahaya pada kemasan kantong teh, saya dapat dari ibu saya (kebayang ga sih, gimana update nya beliau) yang juga concern soal isu-isu kesehatan. Saat itu saya belum peduli, karena berpikir, ya masa produk dijual bebas bahaya sih. Saya akan fokus membahas kantong teh celup kertas ya teman-teman, karena teh celup kertas ini akrab sekali dengan kehidupan kita (saya khususnya hehe).

Kegaduhan isu tentang kemasan kantong teh ini, membuat BPOM mengeluarkan klarifikasi terkait hal tersebut yang intinya teh yang terdaftar di BPOM telah melalui evaluasi keamanan pangan termasuk kemasannya (kantong teh celupnya), dan dijelaskan juga bahwa industry kertas untuk kemasan pangan sudah tidak menggunakan klorin sebagai pemutih dan syarat ini disertakan pada saat permohonan penilaian keamanan produk.1 Klarifikasi tersebut dikeluarkan pada 7 Desember 2016.

Pada kali ini, saya mereferensikan jurnal dari Indonesia, karena teh yang diuji pada jurnal-jurnal tersebut merupakan teh yang dikonsumsi/beredar di masyarakat. Jurnal yang ditulis oleh Dwi Santi Damayanti pada tahun 2014 mengungkapkan jika kita menyeduh teh celup hitam dengan cara merendam kantung tehnya, maka kadar klorin akan menurun seiring lamanya waktu perendaman. Tapi sebaliknya, jika kita menyeduh teh hitam dengan cara mencelup berulang kali, maka semakin lama kita mencelup teh semakin banyak klorin yang terlarut dalam air teh tersebut. 2 sampel merk teh celup yang diuji, semuanya positif mengandung klorin namun masih berada dibawah ambang batas 5mg/l air minum (permenkes RI No.492/Menkes/Per/IV/2010). 2

Jurnal yang ditulis oleh S Wansi dkk pada tahun 2014, menyampaikan bahwa semua merk teh celup yang dijadikan sampel mengandung klorin dengan jumlah yang bervariasi. Kesimpulan studi yang dilakukan oleh S Wansi dkk, adalah semakin lama menyeduh teh, maka kadar klorin dalam air teh akan semakin tinggi. S Wansi dkk menggunakan standar ambang batas klorin dalam air dari WHO yaitu 0,5 ppm, sedangkan klorin yang didapatkan dari hasil studinya berkisar antara 0,058-0,413 ppm, memang masih dibawah ambang batas. Namun perlu diingat, akumulasi klorin pada tubuh dapat menimbulkan dampak kesehatan jika konsumsi teh kita masih dengan cara yang salah. S Wansi dkk menyarankan untuk menyeduh teh tidak lebih dari 2 menit, agar kadar klorin yang terlarut dalam air teh tidak terlampau banyak.3

Pengujian kadar klorin pada teh celup juga dilakukan oleh Hangga Anuraga4, dengan cara mencelupkan 3 sampel teh dalam air rebusan bersuhu 1000C pada 2 waktu yaitu 4 menit dan 8 menit. Pada waktu perebusan teh 4 menit, didapatkan rata-rata klorin 1,6 mg/L pada air rebusan teh. Kadar klorin meningkat menjadi rata-rata 2,6 mg/L pada perebusan teh celup 8 menit. Penulis pun menyarankan jika ingin membuat teh celup, hindari merebus pada suhu 1000C, sebaiknya membuat teh dengan teh celup menggunakan suhu dibawah 1000C dan tidak lebih dari 5 menit. Penelitian ini dilaksanakan pada tahun 2016, di Balai Riset dan Standarisasi Industri Surabaya.

Dari keempat studi/penelitian tersebut, kita bisa menyimpulkan bahwa semua sampel teh celup memiliki kadar klorin, meskipun kadarnya masih dibawah ambang batas yang diperbolehkan (5 mg/L). Saya sangat tertarik dengan penelitian S Wansi dkk, karena beliau menyebutkan merk teh celup yang dijadikan sampel lengkap dengan kadar klorinnya saat dilakukan pengujian. Ada gap yang terjadi antara info klarifikasi BPOM dengan hasil uji S Wansi dkk. Dikatakan bahwa industry kertas untuk kemasan makanan, klorin sudah tidak diperbolehkan sebagai bahan pemutih/anti bakteri. Namun merk teh celup yang disebutkan oleh S Wansi dkk merupakan merk2 ternama di Indonesia, bagaimana bisa? Positif thinking dari saya adalah, penelitian ini dilakukan pada 2016, mudah-mudahan sejak tahun 2017 tidak ada satupun merk teh celup yang menggunakan klorin. But, who knows?

Klorin bersifat iritan, sehingga jika kontak dengan kulit akan menyebabkan iritasi (bila kita berenang pada air yang terlalu banyak kandungan klorinnya, akan mengiritasi mata), juga bersifat reaktif dan oksidator yang sangat kuat. Dalam jangka pendek, klorin dapat menyebabkan penyakit maag (klorin bersifat korosif), sedangkan jangka Panjang dapat meningkatkan risiko kanker hati dan ginjal.5 Klorin juga bersifat larut dalam air, maka ketika melakukan pencelupan teh berulang-ulang klorin yang terlarut dalam air teh akan lebih banyak.

Bagaimana solusinya jika ingin tetap menikmati teh tanpa bayang-bayang klorin? Kita beralih saja ke teh tubruk seperti jaman dulu, repot sedikit tak apa-apa, setidaknya kita sudah membatasi bahan kimia yang tak diperlukan tubuh dari pintu teh ini. Salam sehat, teman-teman.

Referensi :

Badan POM. Penjelasan BPOM terkait Berita tentang Kantong Teh Celup yang Mengandung Racun. 7 Desember 2016. Diakses pada https://www.pom.go.id/mobile/index.php/view/klarifikasi/42/Penjelasan-BPOM-terkait-Berita-tentang-Kantong-Teh-Celup-yang-Mengandung-Racun.html
Dwi Santi Damayati dan Satriani. Pengaruh Kandungan Klorin pada Air Teh Celup Berdasarkan Waktu dan Metode Pencelupan di Kota Makassar Tahun 2014. Al-Sihah Public Health Science Journal. Vol VI No.2, p41-9 Juli-Desember 2014
S Wansi., Tehopilus W., dan Syahran W. Analisis Kadar Klorin pada Teh Celup Berdasarkan Waktu Seduhan. Biopendix. Vol 1 No 1 2014.
Hangga Anuraga. Kadar Klorin pada Pembungkus Teh Celup dengan Variasi Waktu Berbeda pada Suhu Titik Didih (Direbus). Karya Tulis Ilmiah Sekolah Tinggi Ilmu Kesehatan Insan Cendekia Medika Jombang 2016.
Indah Purwaningsih dan Supriyanto. Pengaruh Jumlah Pencucian Beras dengan Kadar Klorin. Jurnal Laboratorium Khatulistiwa. Vol 1, No 1, hal 89-93. 2017

Artikel ini sebelumnya tayang di wattanabe.wordpress.com, dengan judul ” Angkat teh celupmu sebelum 3 menit” 19.09.16

Related Post

Be the first to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.


*